Sunday, October 26, 2014

0

Curi RM2 Kena Penjara 2 Tahun

  • Sunday, October 26, 2014
  • Rahman Hatim
  • Aqidah memang tidak boleh dijualbeli tetapi mudah tergadai tanpa sedar. Masjid banyak duit. Tetapi pengurusan masjid buat duit masjid macam duit mereka sendiri. Curi rm2 kena penjara. Mungkin yg melidi duit tabung tu dalam kesempitan sangat.
    Aku pernah masuk gereja dekat komplek Asia Jaya. Ada kotak transparent atas meja. Ada buku catitan sebelah kotak. Dalam kotak tak bertutup ada banyak duit macam2 note. Aku belek buku. Lima ruang utk diisi. Tarikh, Nama, no tel, jumlah, catitan.
    Berbagai kaum punya nama ada dan memang aku mencari nama melayu. Jumpa beberapa nama siap nombor talipon. Salah satu nama lelaki ambil rm50 utk beli susu anak.
    Aku call no yg dicatat. Sembang bbrp minit. Baru kena berhenti kerja jaga masa tu.
    "Dah jumpa pak imam masjid. Kena buat surat ke bendahari. Bendahari pula suruh gi pejabat zakat. Sampai pejabat zakat kena isi itu ini. Entah bila pula nak dapat. Kawan india suruh pi gereja. Boleh terus ambik kemudian baru tulis nama.
    Saya pun pergi tempat tu dgn dia."
    Kenapa encik ambik limapuluh je. Bukan ada orang jaga pun?
    "entahlah. Tapi walaupun takde orang jaga tapi Allah nampak walaupun dalam gereja. Niat saya memang nak beli susu anak dan sikit utk tambang pusing2 cari kerja."

    Terdiam aku sekejap. Lepas tu encik?
    "Saya terus pergi beli susu anak dan balik rumah dgn nasi bungkus malam lima beranak. Pagi esok gereja talipon dan lepas tu saya pun dapat kerja jadi jaga di gereja tu. Takpa la asal tak mencuri."

    Aku langsung teringat pada sorang pakcik yg sedang ronda tempat parking masa tu. Encik masih kerja di situ?

    "Dak dah. Saya dah balik kampung ni. Gereja bagi modal. La ni saya meniaga gerai makan. "

    Masjid patut boleh buat lebih baik dari gereja. Jangan bangga dengan jumlah terkumpul ratusan ribu tp ahli qariah ada yg dapur tak berasap.

    Wallahua'lam

    Kredit

    Monday, October 13, 2014

    0

    Dosa dan Bahaya Riba

  • Monday, October 13, 2014
  • Rahman Hatim

  •  «وَأَحَلَّ اللهُ البَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا»


    Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallambersabda, “Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”. (HR. Muslim dan Ahmad)

    Hadis yang mulia ini menjelaskan secara tegas tentang keharaman riba, bahaya yang ditimbulkan bagi pribadi dan masyarakat, serta ancaman bagi mereka yang berkecimpung dalam dosa riba, sebab Rasulullahshallahu ‘alahi wasallam menyebutkan laknat bagi orang- orang yang berurusan di dalamnya.


    Akibat dari dosa riba ini telah dirasakan oleh banyak kalangan baik muslim maupun non muslim, kerana riba merupakan kezaliman yang sangat jelas dan nyata. Sehingga wajar kalau Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallahu ‘alahi wasallam mengancam orang-orang yang telibat di dalamnya dengan berbagai ancaman. Di antaranya adalah dengan azab yang pedih, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
    “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah:275).


    Allah subhanahu wata’ala juga menghilangkan keberkahan harta dari hasil riba dan pelakunya dianggap melakukan tindakan kekufuran, sebagaimana firman-Nya,
    “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah:276)


    Allah subhanahu wata’ala memerangi riba dan pelakunya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
    “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al-Baqarah:279)

    Selain ancaman dari Al-Qur’an di atas, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam juga menjelaskan bahaya riba dan sekaligus mengancam pelakunya, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis Jabir di atas.

    Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam juga bersabda, “Jauhilah tujuh dosa besar yang membawa kepada kehancuran,” lalu beliau sebutkan salah satunya adalah memakan riba. (HR. al-Bukhari dan Muslim).


    Dalam hadits yang lain Nabi shallahu ‘alahi wasallam mengancam pelaku riba dengan lebih tegas, beliau bersabda,
    “Dosa riba memiliki 72 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (Shahih, Silsilah Shahihah no.1871)

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Hakim dan dishahihkan oleh beliau sendiri, dijelaskan, “Bahwa satu dirham dari hasil riba jauh lebih besar dosanya daripada berzina 33 kali”.

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan sanad yang shahih dijelaskan, “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari hasil riba dan dia paham bahwa itu adalah hasil riba maka lebih besar dosanya daripada berzina 36 kali”.


    Bentuk Riba

    Riba dibagi menjadi dua bentuk;

    1. Riba Nasi`ah, yang berarti mengakhirkan masa pembayaran, ini terbagi menjadi dua;

    Pertama; Seseorang atau perusahaan tertentu memberikan pinjaman kepada seorang nasabah dengan membayar bunga sekian persen dalam waktu tertentu dan dibayar dalam bentuk angsuran. Misalnya; seorang nasabah meminjam uang ke salah satu bank sebanyak RM10 Ribu dengan bunga 10% dalam jangka waktu 10 bulan, maka setiap bulan pihak nasabah harus mencicil hutangnya RM11 Ribu, jadi selama 10 bulan itu dia harus membayar Rm21 Ribu.

    Ke dua; Pihak nasabah membayar tambahan bunga baru dari bunga sebelumnya disebabkan karena tertundanya pembayaran pinjaman setelah jatuh tempo. Semakin lama tertunda pinjaman itu, maka semakin banyak tumpukan hutang yang harus ditanggung oleh pihak nasabah. Dalam kacamata Islam riba ini disebut riba jahiliyyah. Misalnya si A meminjam uang ke bank B sebanyak Rm100 juta dengan bunga 10% dalam jangka waktu 10 bulan, setiap bulannya pihak peminjam harus  Rp. 11 juta, maka selama 10 bulan itu dia paling tidak harus membayar Rm. 110 juta, jika dia tidak menunda pembayaran (ini sudah jelas riba). Tapi jika sudah jatuh tempo dan dia belum mampu melunaskan hutangnya maka hutangnya berbunga 15% dan begitu seterusnya (dalam keadaan seperti ini telah terhimpun dua bentuk riba sekaligus yaitu riba nasi`ah dan riba fadhl), dan inilah yang berlaku di bank-bank konvesional yang disebut dengan istilah bunga.

    2. Riba Fadhl, yaitu jual beli dengan sistem barter pada barang yang sejenis tapi timbangannya berbeza, misalnya si A menjual 15 gram emas”perhiasan” kepada si B dengan 13 gram emas “batangan”, ini adalah riba kerana jenis barangnya sama tapi timbangannya berbeza. Contoh kedua; menjual dengan sistem barter  wang kertas senilai Rm.100.000,- dengan wang kertas pecahan seribu senilai Rm.95.000,- atau 110.000,-.

    Bekerja di Tempat/Lembaga Riba

    Syaikh Shalih al-Fauzan ketika ditanya tentang bekerja di perusahaan yang bertransaksi dengan riba berkata, “Bertransaksi dengan riba haram hukumnya bagi perusahaan, bank dan individu. Tidak boleh seorang muslim bekerja pada tempat yang bertransaksi dengan riba meskipun persentase transaksinya minim sekali sebab pegawai pada instansi dan tempat yang bertransaksi dengan riba berarti telah bekerja sama dengan mereka di atas perbuatan dosa dan melampaui batas. Orang-orang yang bekerja sama dan pemakan riba, sama-sama tercakup dalam laknat yang disabdakan oleh Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam, “Allah telah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, pencatatnya serta kedua saksinya”. (HR.Muslim). Beliau bersabda lagi,“Mereka itu semua sama saja.” (dalam andil menjalankan riba, red).

    Jadi di sini, Allah melaknat orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, saksi dan pencatat karena mereka bekerja sama dengan pemakan riba itu. Karenanya wajib bagi anda untuk mencari pekerjaan yang jauh dari hal itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya), “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan menganugerahi nya rizki yang tidak dia sangka-sangka”. (Q,.s.ath-Thalaq: 2).
    Dan sabda Nabi shallahu ‘alahi wasallam, “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”.(HR. Ahmad). (Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih al-Fauzan, Jld.IV, Hal. 142-143, No. 148)

    Dampak Negatif Riba Bagi Pribadi dan Masyarakat

    ·         Sebagai bentuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Setiap umatku dijamin masuk surga kecuali yang enggan”. Para shahabat bertanya, “Siapa yang enggan masuk surga wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa yang ta’at kepadaku pasti masuk surga dan barangsiapa yang berbuat maksiat (tidak ta’at) kepadaku itulah orang yang enggan (masuk surga)”. (HR.al-Bukhari)

    ·         Ibadah haji, shadaqah dan infak dalam bentuk apapun tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kalau berasal dari hasil riba, Rasulullahshallahu ‘alahi wasallam bersabda dalam hadits yang shahih,“Sesunguhnya Allah itu baik dan Dia tidak menerima kecuali dari hasil yang baik”.

    ·         Allah subhanahu wata’ala tidak mengabulkan doa orang yang memakan riba, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Ada seorang yang menengadahkan tangannya ke langit berdo’a, “Ya Rabbi, Ya Rabbi, sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan daging yang tumbuh dari hasil yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan.” (HR.Muslim)

    ·         Hilangnya keberkahan umur dan membuat pelakunya melarat, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang memperbanyak harta kekayaan dari hasil riba, melainkan berakibat pada kebangkrutan dan melarat.” (HR.Ibnu Majah).

    ·         Sistem riba menjadi sebab utama kebangkrutan negara dan bangsa. Realita menjadi saksi bahwa negara kita ini mengalami krisis ekonomi dan keamanannya tidak stabil kerana menerapkan sistem riba, kerana para petualang riba memindahkan simpanan kekayaan mereka ke negara-negara yang memiliki ekonomi kuat untuk memperoleh bunga ribawi tanpa memikirkan maslahat di dalam negeri sendiri, sehingga negara ini bangkrut.

    ·         Pengembangan kewangan dan ekonomi dengan sistem riba merupakan penjajahan ekonomi secara sistimatis dan terselubung oleh negara-negara pemilik modal, dengan cara pemberian pinjaman lunak.

    ·         Memakan riba menjadi sebab utama su`ul khatimah, kerana riba merupakan bentuk kezaliman yang menyengsarakan orang lain, dengan cara menghisap “darah dan keringat” pihak peminjam, itulah yang disebut lintah darat.

    ·         Pemakan riba akan bangkit di hari Kiamat kelak seperti orang gila dan kesurupan. Ayat yang menyebut kan tentang hal ini, menurut Syaikh Muhammad al-Utsaimin memiliki dua pengertian, yakni di dunia dan di hari Kiamat kelak. Beliau menjelaskan bahwa jika ayat itu mengandung dua makna, maka dapat diartikan dengan keduanya secara bersamaan. Yakni mereka di dunia seperti orang gila dan kesurupan serta bertingkah layaknya orang kerasukan setan (tidak peduli, nekad). Demikian pula nanti di Akhirat mereka bangun dari kubur juga dalam keadaan seperti itu.

    Sedangkan mengenai ayat, ”Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah,” maka beliau mengatakan kehancuran materi (hakiki) dan maknawi. Kehancuran materi seperti tertimpa bencana dalam hartanya sehingga habis, misalya sakit yang parah dan mengharuskan berubat ke sana-sini, atau keluarganya yang sakit, kecurian (dirompak), terbakar dan lain-lain, ini merupakan hukuman dunia. Atau binasa secara maknawi, dalam arti dia memiliki harta yang bertumpuk-tumpuk tetapi seperti orang fakir kerana hartanya tidak memberi manfaat apa-apa. Apakah orang seperti ini kita katakan memiliki harta? Tentu tidak, bahkan ia lebih buruk daripada orang fakir, sebab harta bertumpuk-tumpuk yang ada di sisinya, dia simpan untuk ahli warisnya saja. Sementara dia tidak dapat mengambil manfaat darinya sedikit pun. Inilah kebinasaan harta riba secara maknawi. Wallahu a’lam bish shawab. (Abu Abdillah Dzahabi Isnen Azhar)


    Sumber:
    -Majalah as-Sunnah edisi 02/VII/1424/2003 (dengan menyadur)
    -Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

    Kredit

    Wednesday, April 9, 2014

    1

    Pemuda Miskin Yang Dipinggir (Kisah Benar)

  • Wednesday, April 9, 2014
  • Rahman Hatim
  • Pada waktu petang, ada seorang lelaki ini, muncul entah dari mana , melihatnya berjalan seperti orang mati , kepalanya menunduk ke bawah , rambut panjang yang menutupi mukanya, mengheret kaki di koridor tempat kerja saya.

    Terdapat pelanggan duduk di sekitar kawasan itu , mereka jelas berasa terganggu. Lelaki ini kelihatan seperti penghisap dadah , atau pesakit mental.

    Semua orang hanya tahu menghalau dia pergi , tetapi tidak mahu mendekatinya. Perkara pertama yang difikirkan apabila saya melihat dia , aku ingin membantu dia.

    Mungkin kalau didekati saya akan dicederakan . Walau bagaimanapun , tanpa banyak memikirkan , saya pergi ke arahnya, meletakkan tangan saya di atas bahu beliau dan bertanya mengapa.

    Saya bertanya apa yang berlaku kepadanya , dari mana kamu datang? , mana keluargamu?. Dia tidak mahu berkata-kata yang pada mulanya, tetapi selepas bertanya lagi , dia berkata seluruh ahli keluarga dia meninggal dunia.

    Saya membawa dia ke belakang restoran , dan segera mendapat beberapa makanan dan minuman untuknya. Saya bertanya dan beliau berkata beliau tidak makan selama beberapa hari .

    Ketika beliau makan nasi dengan kari dan telur goreng , saya boleh bayangkan bagaimana menjadi sukarnya baginya. Bagaimana dia tidak berdaya , dan bagaimana dia merasai apabila semua orang mengusir dia, menolak dia .

    Selepas makan , saya membawanya untuk menggunting rambut, semua kedai gunting menolak dia , bimbang bahawa beliau akan memberi kesan kepada pelanggan mereka. Saya bertanya jika kita boleh membantu anak muda yang miskin pada kadar yang lebih murah, dan model rambut yang mudah untuk dipotong. Saya bersedia untuk membayar 20 untuk gunting rambut , tetapi mereka masih tetapkan 30.

    Jadi kami kembali ke restoran , saya tiba-tiba mengingatkan rakan-rakan Nepal saya yang tidak pergi ke salon, Mereka memotong rambut antara satu sama lain . Alhamdulillah . Saya bertanya kepada mereka untuk membantu. Dan jurujual datang, seorang warga Pakistan . Dia mahu membantu pemuda miskin ini juga, dan ditawarkan untuk memberinya gunting rambut secara percuma. Menakjubkan.

    Selepas memotong rambut tersebut , saya melihat kepadanya, dan memikirkan seorang yang baik dengan melihat riak wajahnya. Kami membawanya ke tandas dan biarkan dia mandi di sana.

    Sejurus kemudian , seorang lelaki daripada salon kami melawat sebelum ini, membawa sepasang kasut untuknya. kasut sesuai denganya.

    Kami berbual-bual seketika. Dia seorang pemuda melayu , dia boleh bercakap Bahasa Inggeris yang baik , dan lancar . Saya fikir , tidak masalah baginya untuk mendapatkan pekerjaan.

    Saya menasihati beliau untuk mencuba dan mendapatkan pekerjaan esok, dan meminta syarikat itu untuk menyediakan penginapan. Buat masa ini , kami memberitahu kepada dia boleh datang setiap hari dan kita boleh berikan dia makanan.Sejurus selepas itu dia pergi meninggalkan saya.

    Saya bersyukur kepada Tuhan bahawa saya telah mengambil langkah pertama untuk mendekati dia. Dan memikirkan kembali pada perjalanan kisah ini, saya amat bersyukur bahawa saya boleh melakukan sesuatu untuk membantu . Dengan tanpa tenaga. Dan jika hidup saya membantu orang setiap hari seperti itu, saya akan berasa gembira, dan mempunyai rasa tujuan yang lebih besar dalam kehidupan . Dan saya tahu jauh di dalam kami dipanggil untuk hidup seperti itu , kita dipanggil untuk menjadi cahaya , untuk memberkati .

    Sungguh mengagumkan , jika itu hidup ditakdirkan. kerana kami dipanggil , untuk mengasihi.


    Tuesday, April 8, 2014

    0

    Contoh Yang Diberikan Oleh Imam Ghazali Rahimullah Mengenai Dunia

  • Tuesday, April 8, 2014
  • Rahman Hatim


  • Tentang seorang lelaki yang berjalan di hutan, ketika dia sedang berjalan, dia terlihat ada seekor singa sedang mengejar dia lalu dia berlari ke perigi kemudian dia melompat ke dalam perigi itu lalu dia yang terjatuh, dia sempat untuk memegang pada tali. dan dia menarik nafas lega dan memandang ke atas dia melihat singa yang masih berlegar di atasnya sambil menunggu dia dan dia melihat ke bawah lalu di bawahnya terdapat seekor ular besar dengan mulutnya terbuka menunggu dia jatuh.

    dia hanya bergantung kepada tali dan dalam masa yang sama dia melihat tikus hitam dan satu tikus putih sedang mengigit tali tersebut. di atas adalah singa, di bawahnya adalah ular dan bergantung pada dia adalah tali...

    kemudian dia melihat terdapat madu di situ lalu meletak jari ke dalam madu tersebut dan dia meletakkan jarinya yang mempunyai madu ke dalam mulutnya. Di sebabkan kemanisan madu itu membuatkan dia lupa singa, ular dan malahan lupa akan dua ekor tikus...

    Imam Ghazali Rahimullah berkata ;

    - Singa itu adalah kematian yang selalu mengejar kamu...

    - Ular itu adalah kubur anda, di mana setiap orang akan jatuh ke dalamya dan jika dia seorang yang baik ia akan mendapat sebuah taman daripada syurga dan jika dia orang jahat ia akan mendapat satu lubang dari 'neraka' Jahannam...

    - Tali merupakan umur hidupnya...

    - Tikus hitam menandakan malam...

    - Tikus putih menandakan hari...

    - Madu adalah dunia yang di mana seseorang itu rasa kemanisan dunia sehinggakan dia lupa kematian, dia lupa kubur, dia lupa hari akan datang dia akan mati dan dia akan berdiri di hadapan pencipta...

    p/s ; mohon di panjang-panjangkan agar ia dapat memberi kesan kepada diri kita yang selalu alpa oleh dek kemanisan dunia.


    Monday, April 7, 2014

    0

    ROH YANG KEMBALI DI BULAN RAMADHAN

  • Monday, April 7, 2014
  • Rahman Hatim


  • Apabila tiba bulan Ramadhan, semua roh berkumpul di Luh Mahfuz memohon kepada Allah S.W.T untuk kembali ke bumi.

    Ada roh yang dibenarkan pulang ke bumi dan ada yang tidak dibenarkan.

    Roh yang dibenarkan pulang adalah kerana amalan baik mereka semasa hayat mereka ataupun ada penjamin-penjamin yang mendoakan mereka.

    Manakala roh-roh yang tidak dibenarkan pulang disebabkan kesalahan mereka semasa hayat mereka akan terus di penjara di Luh Mahfuz.

    Apabila roh dibenarkan pulang, perkara pertama yang mereka lakukan adalah pergi ke tanah perkuburan untuk melihat jasad mereka.

    Kemudian mereka akan pergi ke rumah anak2 mereka, orang yang mendapat harta pusaka mereka dan ke rumah orang yang mendoakan mereka dengan harapan orang yang mereka lawati itu memberi hadiah untuk bekalan mereka.

    Perkara ini akan berlarutan sehinggala tibanya Hari Raya Aidilfitri.

    Pada saat ini mereka akan mengucapkan selamat tinggal kepada jasad dan pulang semula ke Luh Mahfuz dengan bekalan yang diberikan oleh mereka2 yang masih hidup.

    Di sini diberitahu hikmah adanya alam kubur.

    Alam kubur membuktikan bahawa Allah itu Maha Penyayang.

    Orang yang melakukan kesalahan semasa hayatnya boleh dibantu dengan doa orang2 yang masih hidup.

    Alangkah bahagianya jika seseorang yang telah meninggal dunia masih mendapat bekalan dari orang-orang yang masih hidup.

    Oleh itu wahai sahabatku, jangan biarkan orang-orang yang kita sayang, yang mengadap Allah terlebih dulu daripada kita sepi tanpa doa dan sedekah daripada kita.

    Sesungguhnya apabila mati seseorang anak adam itu, terputus ia semua hal kecuali 3 perkara iaitu doa anak2 yang soleh, ilmu yang bermanfaat dan sedekah amal jariah.

    Sebarkan hal ini kepada seberapa ramai orang terdekat anda, dan mintalah mereka untuk melakukan hal yang sama.

    Yang jelas jika anda tidak meneruskan hal ini, maka anda telah melepaskan kesempatan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan beramal soleh.

    Jika anda melakukan dengan ikhlas insya Allah anda akan mendapat ganjaran pahala kebaikan.

    Wednesday, April 2, 2014

    0

    Lelaki Berusia 137 Tahun Hanya Bangun Untuk Solat

  • Wednesday, April 2, 2014
  • Rahman Hatim


  • Seorang lelaki yang berusia 132 tahun (ada yg mengatakan 137 tahun) di Arab Saudi didapati menghabiskan masanya dengan tidur tetapi dia akan tersedar setiap kali tiba waktu solat, lapor sebuah akhbar tempatan.

    Warga emas itu akan bangkit daripada tidur dengan dibantu anak lelakinya untuk menunaikan solat setiap kali bunyi azan kedengaran.

    Aksi lelaki itu dirakamkan dalam satu klip video pendek dan dimuat naik di laman perkongsian video YouTube.

    Dalam rakaman tersebut, lelaki itu dilihat sedang tidur nyenyak apabila anak lelakinya meletakkan tangan di kepala bapanya dan menyatakan waktu solat telah tiba.

    Lelaki tua dan uzur itu yang pada mulanya sukar bergerak menjawab 'azan' dalam nada rendah (lemah) dengan air matanya mula menitis.

    "Keadaan ayah saya ini sepatutnya menjadi satu pengajaran kepada kita semua," kata anaknya. Namun, akhbar berkenaan tidak mendedahkan lokasi kediaman lelaki tersebut.


    Free Auto Malaysia Backlinks My Ping in TotalPing.com