Friday, August 24, 2012

0

Mengapa Tidak Iktikaf?

  • Friday, August 24, 2012
  • Rahman Hatim
  • Share

  • Bahagian dari nilai yang terkandung dalam ibadah shaum adalah agar pencernaan tubuh manusia dapat berehat. Seperti dalam dunia pendidikan, di mana ada musim cuti tahunan dalam rangka memperbaharui semangat belajar.

    I’tikaf hampir sama dengan musim cuti yang merehatkan jiwa dan fikiran, bahkan fizikal. I’tikaf merupakan pintu keluar seorang muslim dari rutin kehidupan dunia atas kesibukan dan kerumitannya. Seorang yang I’tikaf akan menghadap Penciptanya, Dzat Pencipta dunia seisinya ini. Seorang yang beri’tikaf sedang memutus dirinya dari kesibukan dunia dan memburu bekal perjalanan kehidupan yang ia perlukan sampai hari ajal menjelang. Bukankah ini bahagian yang kita fahami dari firman Allah swt. “Dan berbekallah, kerana sebaik-baik bekal adalah takwa.”

    Dalam I’tikaf, jika dilakukan dengan memenuhi syarat dan keadaan yang mendukung, niat yang lurus, akan mengantarkan pelakunya menemukan dirinya yang sebenarnya di hadapan Allah swt. Tidak ada jarak antara dirinya dan Allah swt. Tidak ada makhluk yang merintanginya. Kerana ia diciptakan dalam keadaan seorang diri, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dan akan datang pada hari kiamat seorang diri jua.

    Dalam I’tikaf seseorang melakukan proses penguatan imannya kepada Allah swt. iman kepada Sang Pencipta, Dzat yang Mengendalikan segala sesuatu. Kerana itu, siapa sebenarnya yang berhak untuk ditakuti?? Atau siapa yang layak ditakuti perhitungannya, selain dari Allah swt.??

    Hari-Hari Tertentu

    Pelaksanaan I’tikaf hanya beberapa waktu saja, sejumlah hitungan jari, iaitu sepuluh hari terakhir Ramadhan saja, dari tiga ratus enam puluh lima hari yang Allah swt. sediakan. Semestinya perintah ini tidak memberatkan, jika dibanding jumlah hari yang begitu banyak dalam hitungan tahunnya. Sehingga, apakah jika beberapa hari atau beberapa jam seseorang tidak mencari duit dan kekayaan, waktunya digunakan untuk melaksanakan sunnah i’tikaf, ia  akan mengalami kerugian atau mengalami bahaya?

    Padahal jika ia beri’tikaf, ia telah melaksanakan perintah dari Tuhannya, perintah dari Zat Pemberi Rezeki dan Zat yang Maha Pemurah, Zat yang Menguasai dunia dan isinya…

    Pemilik dunia ini juga yang menjadikan malam-malam tertentu di akhir Ramadhan sebagai malam-malam ibadah; untuk solat, menghidupkan malam –qiyamullail-, tilawah dan zikir, untuk selanjutnya ia keluar dari pelaksanaan i’tikaf dan bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih, iman yang kuat, ilmu dan pengetahuan yang melimpah, dengan itu ia mengetahui dirinya sendiri dan mengenal Tuhannya, yang boleh jadi ia tidak ketahui sebelum ia melakukan i’tikaf.

    Jika kita mengetahui sebahagian dari nilai dan hikmah  i’tikaf ini, kita pasti akan meletakkannya sesuai kepentingannya, sebelumnya juga kita tidak akan menzalimi diri sendiri dengan meremehkannya, juga setelah mengetahui nilainya tidak akan berdiam diri dan bermalas-malasan.

    Beri’tikaf bererti meraih sumber mata air yang menguatkan iman laksana mukjizat. I’tikaf menumbuhkan sikap dermawan tak terhingga, mendorong seorang mukmin untuk terus beramal tanpa henti, menumbuhkan cita-cita tanpa putus asa. Beri’tikaf mengikatkan diri dengan Allah swt. yang dengannya tidak akan bererti setiap ikatan-ikatan emosional lainnya. Beri’tikaf sekaligus meringankan beragam rintangan di jalan dakwah dan medan amal.

    Berbeza dengan sekelompok orang yang selalu dikungkung beragam pekerjaan yang tidak dapat ia tinggalkannya dengan berbagai alibi dan alasan, walau untuk beberapa hari atau beberapa jam saja untuk beri’tikaf. Orang seperti ini layaknya seseorang yang merawat orang yang sakit, yang selalu memerlukan rawatan, atau seperti orang gila yang selalu memerlukan pengawasan, tidak dapat ia tinggalkan. Kelompok orang yang demikian jauh lebih memerlukann uluran bantuan dan kebaikan doa, agar Allah swt. melipat gandakan pahala kepada mereka di dunia dan akhirat.

    Tipu Daya

    Orang yang tidak dapat beri’tikaf pada dasarnya hanya mencari-cari berbagai alasan. Padahal boleh jadi alasan-alasan itu merupakan propaganda dan alibi semata.

    Sungguh, dunia terus akan membebani jiwa, bahkan semakin tenggelam dengan kehidupan dunia akan semakin membebani jiwa. Padahal ubat dari beban berat jiwa itu adalah i’tikaf.

    Perangkap syaitan akan menyusup dan membisikkan bagi orang yang beri’tikaf bahawa apa yang ia lakukan –bekerja- juga dalam rangkaian beribadah kepada Allah swt, kerana itu tidak boleh diganggu dengan i’tikaf. Jika propaganda syaitan ini terus mendominasi dirinya, maka lama-kelamaan ia akan sukar menerima kebenaran, berat melakukan i’tikaf. Padahal i’tikaf menjadi ubat yang disediakan oleh Zat Yang Maha Penyembuh dari berbagai penyakit.

    Ya, hendaknya di hari-hari penghujung Ramadhan ini kita memiliki kemampuan untuk melihat agama dan dunia kita secara seimbang dan proporsional sebagaimana yang dikehendaki Allah swt. dan agar kita merasakan –meskipun sekejap- manisnya memutuskan diri dari kesibukan dunia untuk berintim dengan Allah swt., beri’tikaf. Sehingga dengan upaya itu akan merubah jiwa dan hidup kita menjadi lebih baik, dan itu berlangsung selama Ramadhan satu ke Ramadhan yang berikutnya, biidznillah. Allahu a’lam.


    Kredit: halaqah-online.org


    Do you like this story?

        
        

    Post a Comment

    Free Auto Malaysia Backlinks My Ping in TotalPing.com