Monday, December 12, 2011

1

Hati Seorang Ayah

  • Monday, December 12, 2011
  • Rahman Hatim
  • Share

  • Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang bongkak, disertai suara batuk-batuknya.
    Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian bongkak?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.
    Ayahnya menjawab : “Sebab aku Laki-laki.” Itulah jawaban Ayahnya.
    Anak wanita itu tergamam : ”Aku tidak faham.”


    Dengan kerut-kening kerana jawapan Ayahnya membuatnya terfikir sejenak. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan :
    “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki.”
    Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.
    Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :”Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian bongkak? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”
    Ibunya menjawab: “Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu jawapan Bonda.

    Anak wanita itupun kemudian menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawapan yang dia inginkan selama ini.

    “Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia sentiasa akan menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa aman tenang dan terlindungi.“

    “Ku-ciptakan bahunya yang gagah dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.“

    “Ku-berikan kemahuan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya.“

    “Kuberikan Keperkasaan dan mental yang kuat yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan kerana tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari payahnya.”

    “Ku berikan kesabaran, ketekunan serta kesulitan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap
    kali menyerangnya.”

    “Ku berikan perasaan kuat dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan mengasihi sesama saudara.”

    “Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyedarkan, bahawa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang sentiasa menemani. dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka mahupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”

    “Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu sentiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia dan BADANNYA YANG TERBONGKAK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, sentiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesulitannya demi meneruskan hidup keluarganya.“

    “Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggungjawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggungjawab ini adalah Amanah di Dunia dan Akhirat.”

    Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. ” AKU MENDENGAR dan MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”
    Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah…


    Nota:
    Berbahagialah yang masih memiliki Ayah. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya Berbahagialah yang merasa sebagai ayah. Dan lakukanlah yang terbaik Buat keluarga kita
    “Jika Tuhan telah memanggil seorang ayah, hanya doa untuknya sebagai ungkapan sayang kita”


    Do you like this story?

        
        

    1 comment

    December 13, 2011 at 11:25 PM

    sayang ayah!

    Post a Comment

    Free Auto Malaysia Backlinks My Ping in TotalPing.com